Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menyambut baik dan mendukung penyelenggaraan Bamboo Biennale 2014 atas prakarsa Solo Creative City Networks (SCCN) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Kota Surakarta serta seluruh pemangku kepentingan yang dilaksanakan di Benteng Vastenburg Kota Surakarta pada 31 Agustus s.d 28 September 2014.  Bamboo Biennale 2014 diselenggarakan untuk pertama kalinya ini bertemakan ‘Born’, dan merupakan serangkaian kegiatan yang berpuncak pada pameran karya bamboo dua tahunan.

Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif Berbasis Media, Desain dan Iptek, Harry Waluyo menyatakan bahwa even Bamboo Biennale 2014 dilaksanakan dalam upaya memaknai kelahiran, keberdayaan dan sekaligus berkeinginan memuliakan bambu sebagai bagian dari kehidupan dan penghidupan masyarakat Indonesia. Disamping itu sebagai ajang kegiatan pengembangan vegetasi bambu (hutan bambu, produk kriya hingga arsitektur bambu) dan berusaha mengintegrasikan semangat kreatifitas banyak pihak dalam membangun dan mengembangkan potensi bambu.

“Even ini terselenggaranya akibat munculnya fenomena bergesernya penggunaan bambu oleh material lain di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, dan material bambu banyak tergantikan dengan bahan modern” ungkap Harry Waluyo. Dengan transformasi desain yang kekinian diharapkan bambu mampu kembali menjadi bagian dalam siklus kehidupan budaya masyarakat kekinian dan masa depan, tambahnya.

Tema ‘Born’ mencoba mengajak publik, termasuk para seniman dan pengunjung, untuk memulai sebuah proses mendokumentasikan dan memulai upaya keberdayaan dan pemberdayaan yang ideal demi keberlangsungan material bambu. Oleh karenanya tema ‘Born’ atau ‘Lahir’ sangat tepat diambil dengan munculnya event Bamboo Biennale pertama kali yang akan terselenggara di kota Surakarta bahkan di Indonesia.

Bamboo Biennale 2014 ini digagas dan diangankan sebagai suatu skenario/strategi untuk menegakkan dan memperkuat budaya bambu Nusantara. Bambu harus dilihat sebagai satu kesatuan budaya untuk dikembangkan. Jika tidak maka kita hanyalah akan menjadi Negara penyedia atau pengekspor bahan baku saja. Tentu hal ini tidaklah kita kehendaki lagi.

Pengetahuan dan juga keterampilan mengolah bambu ada pada budaya-budaya tradisi di sebagian besar etnik Nusantara. Hampir setiap budaya etnik dan sub-etnik memiliki ‘cultural DNA’ yang berkait dengan bambu. Hanya saja ‘memori kolektif’ tentang ini berangsur memudar dan beberapa nyaris punah karena kita abai terhadap ini. Mungkin belum terlalu terlambat untuk memulai mengingat dan menganyam lagi pengetahuan tentang bambu. Perlu upaya sistematis, terstruktur,  dan holistik jangka panjang serta berkelanjutan, apabila melihat bambu sebagai bahan konstruksi atau yang lain maka perlu dilihat secara menyatu antara mindset dengan keterampilan/skills set yang dimiliki oleh komunitas atau artisan. Ini yang masih merupakan keunikan yang kita miliki.

“Biennale Bamboo mengundang arsitek/designer/seniman untuk ikut terlibat dalam sebuah proses ‘melahirkan kembali’ budaya bambu. Sebuah kerja besar yang membutuhkan kebersamaan dan juga kecintaan besar pada pembangunan dan perkuatan budaya.,” ungkap Eko Prawoto dan Setiadi Sopandi, arsitek sekaligus kurator Bamboo Biennale 2014.

Residensi ke Eksibisi
Pameran yang berlangsung di Benteng Vastenburg akan menampilkan karya instalasi bambu dari 15 Peserta yang lolos seleksi dari para kurator. Pameran akan menampilkan potensi dari para seniman, desainer, hingga arsitek dari berbagai kota di Indonesia. Sebelum melakukan eksibisi, peserta telah melakukan residensi di sentra-sentra kerajinan bambu yang ada di sekitar Kota Surakarta. Mereka mendapat kesempatan dalam 1 (satu) hari untuk bersama-sama mengunjungi seluruh sentra-sentra kerajinan bambu sebagai calon partner mereka. Para peserta pun tidak boleh melakukan upaya perancangan sebelum melakukan pengenalan terhadap sentra kerajinan bambu melalui proses residensi ini. Jadi masing-masing peserta harus berpijak pada kapasitas dan tata cara masing-masing sentra kerajinan bambu.

Tiap peserta diwajibkan untuk melakukan assesment/ pandangan terhadap ‘partner’ mereka, para sentra kerajinan bambu/workshop/perajin bambu, dan melakukan telaah mengenai apa yang cocok/dapat dikembangkan dari workshop/perajin tersebut. Apakah keterampilannya dapat ditingkatkan, atau bahan bakunya cukup, distribusinya dapat mendukung dsb. Perlu ada semacam visioning/ pandangan ke depan terhadap kesetempatan/kelokalan tersebut. Dengan harapan produk bambu mampu berdaya saing tinggi dalam berbagai diversifikasi produk di era zona bebas ekonomi. Melalui residensi ini, seluruh potensi bambu dan keterampilan para perajin di wilayah Solo Raya diharapkan terus berkembang. Setelah acara Bamboo Biennale selesai, ada peningkatan nilai tambah bagi perajin dan bambu lokal itu sendiri. Proses kelahiran kejayaan bambupun masih terus berlanjut di tangan para perajin lokal yang telah diberdayakan.

Tentang  Program Bamboo Biennale
Bamboo Biennale ‘Born’ memiliki tujuh program utama: Bamboo Mapping, Residensi, Pameran Karya, Studio Talk, Seminar Nasional, Jelajah Hijau Bambu, dan Adopsi Bambu.

• Bamboo Mapping, (Februari-April 2014).
Kegiatan diawali dengan melakukan pemetaan potensi hutan alam, perajin dan katalog produk bambu di tiga titik lokasi utama, Solo Raya. Adapun ke-tiga titik tersebut adalah kluster industri ‘Sangkar Burung’ Mojosongo, Kota Surakarta, kluster industri ‘Kriya Bambu’ Desa Walen, Boyolali, kluster industri ‘Interior Bambu’ Jambu Kulon, Ceper, Klaten. Hasil pemetaan kluster industri bambu menjadi informasi dasar bagi para seniman untuk merespon potensi kelokalan bambu beserta komunitasnya dalam proses residensi artis dalam durasi waktu 2 bulan (Juni-Juli 2014).

• Residensi: Kegiatan Residensi merupakan suatu perpaduan antara pengenalan, pemahaman dan juga peningkatan keterampilan namun juga kreativitas dan inovasi yang bermartabat. Sebuah proses untuk memasukkan ‘intellectual property’ pada produk berbahan baku bambu. Gagasan yang terbaik perlu dipadukan dengan keterampilan ketukangan/artisan yang terbaik juga. Bamboo biennale 2014 mengundang arsitek/desainer/seniman untuk ikut terlibat dalam sebuah proses ‘melahirkan kembali’ budaya bambu. Sebuah kerja besar yang membutuhkan kebersamaan dan juga kecintaan besar pada pembangunan dan perkuatan budaya. Para desainer/arsitek berproses dengan para perajin bambu dalam menghasilkan karya yang akan dipamerkan di halaman Vastenburg.

• Pameran Karya Instalasi Bambu (31 Agustus – 28 September 2014, Benteng Vastenburg)
Menampilkan potensi seniman yang berbakat dan para arsitek yang memiliki minat mengekspolorasi material bambu melalui mekanisme open call application and invitation. Berdasarkan kurasi oleh Eko Prawoto dan Setiadi Sopandi, terpilih sebanyak 16 seniman yang berpartisipasi pada pameran karya Bamboo Biennale 2014. (Data terlampir)

• Studio Talk:  (8 September 2014, Benteng Vastenburg).
Merupakan agenda kegiatan yang membahas karya artist residensi Bamboo Biennale. Menghadirkan Adrea Fitrianto dan Andry Widyowijatnoko sebagai desainer. David Hutama (Universitas Pelita Harapan, Jakarta) sebagai moderator.

• Seminar Nasional: “Reinkarnasi Bambu Dalam Kekinian” (13 September 2014, Conference Hall Graha Solo Raya, Surakarta).
Menghadirkan keynote speaker: 1) Ahadiat Yoedawinata, “Kelahiran & Keberlanjutan Bambu”, 2) Singgih ‘MAGNO DESAIN’, “Desain dan Industri Bambu Kreatif”, 3) Bandung Mawardi, “Diskurs Bambu Sebagai Bagian Kehidupan”. Peserta dibuka untuk umum.

• Bamboo Green Trail “Wonderful Simo”: (14 September 2014, Desa Walen, Simo, Boyolali).
Jelajah pusaka saujana bamboo yang dibuka untuk umum, menjelajah hutan alam, kehidupan kluster perajin, merasakan workshop membuat besek dan makanan di Desa Walen, Simo Boyolali.

• Adopsi Bambu: (27 September 2014).
Agenda kegiatan penghijauan dengan mengadakan benih 1000 pohon bambu yang akan ditanam di sepanjang pinggiran Sungai Bengawan Solo. Masyarakat dilibatkan dengan membeli bibit bambu yang akan ditanam di lokasi terpilih untuk penghijauan. Dengan ketentuan harga bibit sebagai berikut.
Pelajar SD Rp 10.000/bibit
Pelajar SMP Rp 15.000/bibit
Pelajar SMA Rp 20.000/bibit
Mayarakat umum Rp 30.000/bibit
Jumlah adopsi bambu bebas,minimal 1 bibit. Setiap peserta akan mendapatkan sertifikat adopsi bambu dari panitia Bamboo Biennale dan ikut serta dalam penanaman.

Selain itu, pada kegiatan Bamboo Biennale 2014 memiliki program pendamping seperti even musik bambu pada tanggal 31 Agustus 2014 dan pameran fotografi, dengan kurator karya foto Pandji Vasco Da Gamma 13-14 September 2014 bertempat di Graha Solo Raya. Opening Ceremony menampilkan Endah Laras (solis dari Solo), Komunitas Red Batik-Solo, Group Seni Bundengan (Bandung). (puskompublik)

Sumber : www.parekraf.go.id

Comments

Komentar