Bandung, 5 September 2014—Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu melakukan kunjungan kerja untuk melihat pengembangan ekonomi ekonomi kreatif di daerah. Kali ini, Menteri melakukan kunjungan kerja ke Bandung dan sekitarnya untuk melihat langsung perkembangan ekonomi kreatif berbasis seni dan budaya (EKSB) dan ekonomi kreatif berbasis media, desain dan IPTEK (EKMDI) yang dilakukan oleh pelaku kreatif di kota Bandung, Jawa Barat.

Sejak tahun 2012, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sudah melakukan Sosialisasi kegiatan Pengajuan Kota Kreatif ke UNESCO, salah satu diantaranya di Kota Bandung. Berdasarkan 7 tema yang sudah ditetapkan UNESCO yaitu : Literature, Film, Music, Craft and Folk Art, Desain, Media Arts dan Gastronomy, diperoleh kesepakatan bahwa Kota Bandung akan mengusung tema Desain Tata Kota berdasarkan pada setiap aktivitasnya.

Kriteria sebagai Kota Desain antara lain adanya : industri desain yang sudah mapan; Cultural landscape atau bentang budaya;  sekolah-sekolah desain dan pusat-pusat penelitian desain; kelompok-kelompok pelatihan bagi perancang dan pencipta dengan kegiatan yang berkesinambungan baik pada tingkat lokal maupun nasional; pengalaman penyelenggaraan even yang didedikasikan untuk desain; kesempatan bagi perancang lokal dan perencana kota untuk pemanfaatan bahan-bahan kandungan local; industri kreatif berbasis desain yang berkelanjutan. Saat ini sudah ada 37 Kota Kreatif Unesco, dan Kota Bandung akan segera menyusul, tentunya diperlukan kerja keras dari semua elemen penggerak kreatif Kota Kembang.

Aplikasi Kota Bandung beserta aplikasi 4 (empat) kota kreatif lainnya yaitu : Kota Denpasar, Kota Solo, Kota Yogyakarta dan Kota Pekalongan sudah berhasil dikirimkan ke UNESCO. Saat ini ke 5 (lima) kota tersebut dalam tahap menunggu hasil verifikasi UNESCO yang menurut time table akan diumumkan pada bulan Oktober 2014.

Selain pengajuan ke UNESCO, Bandung telah pula memiliki serangkaian pengakuan sebagai kota kreatif, diantaranya : tahun 2007, Creative Cities International Meeting Yokohama 2007, Bandung dinobatkan sebagai salah satu Kota Terkreatif di Asia Timur; tahun 2007, British Council menobatkan Bandung sebagai pilot project kota Terkreatif di Asia Timur; dan  Desember 2011, Channel News Asia dari Singapura, menobatkan Bandung sebagai Kota Terkreatif di Asia.

“Bandung merupakan model sebuah kota yang berhasil mengembangkan potensi ekonomi kreatif, menciptakan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas hidup dan mengangkat nama Bandung, Jawa Barat dan Indonesia di dunia”. Ungkap Menparekraf Mari Elka Pangestu mengapreasiasi perkembangan kota Bandung dan sekitarnya.

Menurut Menparekraf, dalam keadaan perekonomian dunia yang melamban dan keperluan Indonesia untuk diversifikasi dari ekonomi yang berbasis komoditas dan industri olahan padat karya, industri kreatif dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing saat ini dan kedepan. Hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi kreatif, bahwa hingga tengah tahun 2014 diperkirakan sebesar  5,12% atau hampir sama dengan pertumbuhan nasional, sehingga nilai tambah yang diciptakan sektor ekonomi kreatif diestimasi mencapai Rp 111,2 triliun. Penyumbang nilai tambah tertinggi antara lain subsektor mode, kuliner, kerajinan serta penerbitan dan percetakan. Keempat subsektor ini juga erat kaitannya dengan sektor pariwisata.

Dalam kesempatan itu, Mari juga menyebutkan, bersama sektor pariwisata, kontribusi ekonomi kreatif terhadap pertumbuhan perekonomian nasional terus meneningkat. Sepanjang semester 15 subsektor ekonomi kreatif, 8 diantaranya mengalami pertumbuhan jauh di atas laju perekonomian nasional. Hingga semester I 2014, nilai tambah yang diciptakan oleh sektor ekonomi kreatif diestimasi mencapai Rp 111,2 triliun. Penyumbang nilai tambah tertinggi antara lain subsektor mode, kuliner, kerajinan serta penerbitan dan percetakan. Keempat subsektor ini juga erat kaitannya dengan sektor pariwisata. Sehingga pertumbuhan yang baik di sektor pariwisata akan mendukung pertumbuhan di sektor ekonomi kreatif, maupun sebaliknya. Sinergi pariwisata dan ekonomi kreatif dapat menjadi sumber pertumbuhan perekonomian nasional yang handal.

Sektor ekonomi kreatif juga menjadi pencetak devisa negara dengan diperkirakan tingginya ekspor karya kreatif Indonesia. Menurut estimasi Pusdatin Kemenparekraf, ekspor karya kreatif Indonesia hingga tengah tahun 2014 mencapai Rp 63,1 trilliun atau tumbuh sebesar 7,27% dibandingan periode yang sama tahun 2013. Pertumbuhan tertinggi dicapai oleh subsektor kerajinan dengan laju pertumbuhan ekspor sebesar 11,81% lalu diikuti oleh ekspor mode dengan laju pertumbuhan 7,12%. Subsektor periklanan dan arsitektur juga cukup tinggi pertumbuhannya yaitu berturut-turut 6,02% dan 5,59%.

Dalam kunjungan kerja ke Bandung, Menparekraf mengunjungi Bandung Creative City Forum (BCCF) atau Perkumpulan Komunitas Kreatif Kota Bandung, adalah sebuah forum dan organisasi lintas komunitas kreatif yang di deklarasikan pada 21 Desember 2008. Sebagai organisasi resmi, BCCF  telah menjelma menjadi sebuah organisasi mandiri yang memiliki tujuan untuk dapat memberikan manfaat bagi masyarakat pada umumnya dan komunitas kreatif di kota Bandung khususnya.

Dalam setiap aktivitasnya BCCF menggunakan pendekatan pendidikan berbasis kreativitas, perencanaan dan perbaikan infrastruktur kota sebagai sarana pendukung pengembangan ekonomi kreatif dan menciptakan wirausaha-wirausaha kreatif baik perorangan maupun komunitas. Forum ini juga turut menginisiasi pengembangan strategi branding dan membangun network yang seluas-luasnya sebagai upaya kolektif demi mentahbiskan kota Bandung sebagai Kota Kreatif yang siap berkolaborasi sekaligus berkompetisi secara global.

Ruang-ruang publik bagi komunitas pun menjadi salah satu upaya yang diinisiasi oleh BCCF untuk meningkatkan potensi ekonomi kreatif di kota Bandung. Pada tahun 2011 BCCF menyediakan sebuah ruang kreatif yang bernama Bandung Creative Hub (BCH) atau yang lebih dikenal dengan nama Simpul Space I, yang bertempat di Jalan Ir. Juanda No. 329 Bandung, tahun 2012, BCCF meresmikan sebuah ruang public lain yaitu Simpul Space II, beralamat di Jalan Purnawarman No. 70 Bandung.

Mencermati perkembangan dan apresiasi komunitas-komunitas terhadap penyediaan ruang kreatif semakin diperlukan guna memfasilitasi segala macam program yang diusung oleh komunitas, seperti pameran, diskusi, workshop, ekskursi, presentasi, pertemuan komunitas dan lain sebagainya, sehingga semua program yang hadir diharapkan mampu memiliki nilai dan pesan kreativitas dalam balutan kebersamaan, pada tahun 2014 ini BCCF kembali meresmikan ruang publik selanjutnya yaitu Simpul Space III.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mengatakan sangat mengapresiasi upaya Pemerintah Kota Bandung dan komunitas Bandung Creative City Forum (BCCF) untuk terus meningkatkan sarana dan prasarana bagi komunitas masyarakat kreatif di kota ini seperti membangun Simpul Space, tempat bertemunya berbagai Orang Kreatif dari berbagai kalangan dan keahlian.

“Apa yang dilakukan oleh BCCF dan Pemkot Bandung yang terus menambah jumlah Simpul Space sebagai ruang terbuka bagi Orang Kreatif sangat strategis dan berdaya besar untuk mengembangkan potensi sector ekonomi kreatif sebagai unggulan pemberdayaan masyarakat ke di masa depan, baik untuk pembangunan ekonomi maupun budaya,” kata Menparekraf Mari Elka Pangestu saat meresmikan Simpul Space#3 di Kota Bandung, Jumat (5/09), di Bandung.

Mari mengatakan, konsep Simpul Space yang dikembangkan BCCF dengan Pemkot Bandung sangat penting dan vital untuk pengembangan ekonomi kreatif dan pariwisata ke depan. Simpul Space adalah ruang bersama bagi komunitas kreatif untuk bisa mengembangkan berbagai ide kreatif untuk melahirkan karya-karya inovatif. “Salah satu kebutuhan dasar komunitas kreatif adalah adanya ruang untuk berekspresi dan berkumpul serta berjejaring antar komunitas untuk melahirkan program kolaborasi hingga karya-karya inovatif. Dan ini hanya mungkin terwujud bila tersedia ruang-ruang public semacam Simpul Space ini,” kata Mari.

Oleh karena itu Mari berharap, kehadiran Simpul Space#3 ini bisa memberi inspirasi kepada komunitas kreatif dan Pemkot lainnya di berbagai wilayah Indonesia. “Kita harapkan apa yang dilakukan BCCF dan Pemkota Bandung mampu memicu dan menginspirasi kota-kota lainnya sehingga potensi besar sector ekonomi kreatif dan pariwisata Indonesia bisa kita gali secara optimal bagi pemberdayaan baik di bidang ekonomi maupun budaya,” kata Mari.

Kehadiran Simpul Space di Bandung berawal dari kesadaran masyarakat kreatif kota ini akan kebutuhan terhadap ruang bersama yang bisa gunakan sebagai tempat berkumpul, saling bertukar ide dan memperluas jejaring. Kemudian pada 2011, secara swadaya BCCF mendirikan sebuah tempat bernama Bandung Creative Hub . Pada tahun 2012, dukungan datang dari Pemerintah Kota Bandung, sehingga BCCF mendirikan tempat sejenis yang diberi nama Simpul Kreatif Kota Bandung (Simpul.bdg), atau disebut juga Simpul Space#2. Kali ini, sesuai dengan berjalannya waktu dan perkembangan program-programnya, BCCF akan membuka sebuah simpul baru di lokasi yang berbeda, bernama Simpul Space#3. Simpul Space BCCF selama ini telah dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan workshop, kumpul komunitas,talk show, pelatihan, pameran produk-produk kreatif, dan sebagainya.

“Melalui semangat sebuah kota kreatif yang selalu haus akan perubahan, keberadaan BCCF didukung kebijakan pemerintah yang aspiratif dapat memperkokoh brand image desain di Indonesia dan mendorong kewirausahaan insan kreatif, sebagai sarana untuk mempresentasikan dan memvisualkan potensi yang luar biasa dalam kehidupan masyarakat Bandung dan sekitarnya” Mari Elka Pangestu menambahkan.

Dengan persaingan yang semakin ketat, untuk menjadi pemenang maka dirasa akan sangat cocok bagi Kota Bandung untuk menggantungkan harapan pembangunan perekonomiannya pada peran ekonomi kreatif yang dimotori oleh kaum muda yang memiliki semangat inovasi dan kreativitas dan mampu berperan sebagai aktor utama dalam memoles sesuatu yang “biasa” menjadi suatu karya atau produk barang maupun jasa asli “urang Bandung” yang “luar biasa” dan berdaya saing.

Diharapkan dengan kokohnya BCCF sebagai bagian dari ekosistem pengembangan industri kreatif,  antara lain ekosistem yang tersedia disini ketersediaan SDM kreatif yang didukung oleh individu – individu kreatif  yang memiliki talenta seni, pengetahuan, dan intelektual serta sumber daya alam dan jejaring komunitas kreatif diharapkan mampu mengoptimalkan pergerakan wisatawan nusantara dari kota ke kota lain maupun mampu menambah jumlah kunjungan wisatawan manca negara yang akan menjadi sumber pemasukan devisa. (Puskompublik)

 

 

 

Sumber :  www.parekraf.go.id

Comments

Komentar