indonesiamagz.com – Setelah diluncurkan pada tanggal 2 Oktober 2015 lalu, Bhakti Budaya Djarum Foundation bersama dengan pembina Batik Kudus, Miranti Serad Ginanjar, mengadakan bedah buku Batik Kudus the Heritage. Acara yang berlangsung di Galeri Indonesia Kaya itu turut menghadirkan beberapa pembicara terkait yang berkompeten, seperti Ari Juliano Gema selaku Deputi HKI dan Regulasi Badan Ekonomi Kreatif, Nita Kenzo sebagai pemilik Galeri Batik Jawa, Komunitas Sobat Budaya yang diwakili oleh Vande Leonardo, dan perwakilan perajin Batik Kudus, Yuli Astuti.

(ki-ka) Miranti Serad Ginanjar (Penulis Buku Batik Kudus the Heritage sekaligus Pembina Galeri Batik Kudus), Ari Juliano Gema (Deputi Fasilitasi HKI & Regulasi Badan Ekonomi Kreatif), Vande (Komunitas Sobat Budaya, Gerakan Sejuta Data Budaya), Nita Kenzo (Pimpinan Galeri Batik Jawa)
(ki-ka) Miranti Serad Ginanjar (Penulis Buku Batik Kudus the Heritage sekaligus Pembina Galeri Batik Kudus), Ari Juliano Gema (Deputi Fasilitasi HKI & Regulasi Badan Ekonomi Kreatif), Vande (Komunitas Sobat Budaya, Gerakan Sejuta Data Budaya), Nita Kenzo (Pimpinan Galeri Batik Jawa)

Selain berdiskusi membahas isi buku Batik Kudus the Heritage, acara ini juga turut membahas mengenai elemen-elemen pendukung kelestarian batik, khususnya Batik Kudus, dan juga penjelasan beragam upaya pelestariannya. “Batik memiliki kekayaan corak dan filosofi yang kaya. Semua kekayaan tersebut berasal dari perpaduan beragam budaya yang melebur sejak lama, utamanya percampuran budaya Islam dan Hindu yang dipelopori oleh kepemimpinan Sunan Kudus,” jelas Miranti.  Selain itu, posisi Kudus yang berada di jalur perlintasan antara Rembang, yang dulu dikenal sebagai pelabuhan terbesar di Jawa Tengah, menuju pusat Jawa (Solo dan Yogyakarta) menghasilkan percampuran corak dan warna yang beragam.

Sayangnya, keberagaman nilai Batik Kudus sempat terbengkalai cukup lama karena sangat sedikitnya perajin yang mau meneruskannya, tidak seperti (katakanlah) Solo dan Yogyakarta yang industri batiknya hampir tidak pernah mati. Baru sekitar pertengahan dekade awal 2000-an, Batik Kudus mulai mendapat perhatian dan mengalami restorasi, salah satunya seperti yang dilakukan oleh Miranti yang selama 10 tahun membina para perajin terkait di sana hingga mampu berkembang cukup pesat seperti saat ini. Melalui buku inilah, kekayaan dan perjuangan Batik Kudus diceritakan dengan sangat jelas oleh Miranti.

Comments

Komentar