Reportase : Muhammad Indra

Indonesiamagz – Jika mendengar kata Garut, yang terlintas dipikiran kita ialah dodol atau domba Garut. Tidak hanya itu, Kabupaten Garut menyimpan banyak potensi wisata, baik kuliner, wisata alam, wisata bahari hingga wisata sejarah. Menurut Bupati Garut, Rudi Gunawan terdapat 42 tempat wisata di Kabupaten Garut sangat cocok untuk kita yang ingin menghabiskan masa liburan anda bersama keluarga atau teman-teman. Garut merupakan bagian dari tempat wisata di jawa barat yang indah dan mempesona.
Salah satu tempat wisata yang cocok sekali untuk mengajak keluarga yaitu Situ Cangkuang yang berada di Desa Cangkuang, Kecamatan Leles. Untuk mencapai Candi Cangkuang bisa mengunakan bus atau mobil elf jurusan Bandung-Garut, berhenti di alun-laun Leles, kemudian dilanjutkan dengan naik delman atau ojeg sejauh 3 Km. Candi Cangkuang terletak di puncak bukit kecil di Pulau Panjang yang dikelilingi Situ Cangkuang.
Untuk masuk ke desa wisata ini cukup merogoh kocek sebesar 5 ribu untuk tiket masuk. Lalu untuk menuju candi Cangkuang, menggunakan perahu rakit dengan biaya 5 ribu perorang untuk pulang pergi. Perjalanan mengunakan rakit tidak terlalu lama, hanya 15 menit kita sudah sampai di lokasi candi cangkuang. Selama perjalanan di perahu rakit kita bisa melihat pemandangan gunung, itu karena lokasi candi di Desa Cangkuang dikelilingi oleh empat gunung besar di Jawa Barat, yang antara lain Gunung Haruman, Gunung Kaledong, Gunung Mandalawangi dan Gunung Guntur.

Alat transportasi menuju Candi Cangkuang
Alat transportasi menuju Candi Cangkuang

15 Menit Menuju Situ Candi Cangkuang

Setelah sampai dan menjejakkan kaki di pulau kecil seluas 16 Ha ini, suasana sejuk dan rindang sangat terasa ketika berjalan dibawah belasan pohon besar yang tumbuh disitu sejak puluhan tahun lalu. menyusuri jalan kecil menanjak dan melingkar untuk mencapai puncak bukit, tempat dimana lokasi bangunan Candi Cangkuang berada. Seperti halnya tempat wisata di daerah lain, disepanjang jalan menuju puncak bukit ini dipenuhi oleh pedagang makanan dan penjual souvenir, tetapi pedagang disini umumnya terlihat lebih sopan ketika menawarkan barang dagangannya.
Sebelum sampai diatas bukit, kita akan memasuki kawasan perkampungan adat Kampung Pulo. Pengelola tempat wisata telah mengatur rutenya sedemikian rupa, sehingga pengunjung Candi Cangkuang akan melewati Kampung Pulo ini sebelum tiba di lokasi candi. Terdapat enam buah rumah adat yang berukuran sedang dengan berbentuk rumah panggung, tiga buah dikiri dan tiga buah lagi dikanan jalan masuk, disebelah kiri depan jalan masuk terlihat sebuah bangunan masjid. Kedua deretan tersebut tidak boleh ditambah dan dikurangi, yang berdiam disana hanya 6 keluarga.

Rumah adat Kampung Pulo
Rumah adat Kampung Pulo

Di Kampung Pulo ini hanya boleh dibangun enam buah rumah saja, dan rumah adat ini hanya boleh dihuni oleh keturunan Embah Dalem Arief Muhammad (leluhur Kampung Pulo)Rumah Adat didiami oleh enam kepala keluarga (Wanita) kepemilikan rumah disini dimiliki oleh garis keturunan pihak perempuan. Embah Dalem Arief Muhammad yang makamnya berdampingan dengan Candi Cangkuang merupakan penyebar ajaran agama islam.
Setelah melalui Kampung Pulo, perjalanan dilanjutkan menuju atas bukit dengan menaiki beberapa anak tangga untuk melihat lebih dekat Candi Cangkuang. Candi yang berdiri di puncak bukit ini, merupakan bangunan candi berbentuk persegi empat dengan lebar dan panjang masing-masing sekitar 5 Meter dengan ketinggian sekitar 9 Meter. Candi Cangkuang merupakan candi peninggalan agama Hindu di tanah Sunda yang dibangun sekitar abad ke 8, tidak ditemukan rujukan siapa yang telah membangun candi ini.
Sekilas mengenai Nama Candi Cangkuang sendiri diambil diambil dari nama Desa Cangkuang tempat dimana candi tersebut ditemukan, namun ada yang berpendapat bahwa Cangkuang adalah nama tumbuhan/pohon Cangkuang yang banyak tumbuh di kawasan tersebut. Candi tersebut berseblahan dengan makan Arief Muhammad yang merupakan menyebar agama islam. Hal itu menunjukan bahwa toleransi antar umat beragama sudah ada sejak dahulu.


Begitulah beberapa kisah perjalanan ke desa wisata Cangkuang, selain kita dapat berwisata melepas kepenatan dan mengisi liburan di Kabupaten Garut, kitapun dapan menambah wawasan sejarah di tataran sunda yang tidak kalah penting. Candi dan beberapa peninggalan lainnya, yang berada di Cangkuang ini merupakan kekayaan warisan budaya dan sejarah salah satu bangsa kita. Oleh karenanya kita yang harus dilesatrikan dan dijaga sebagai rasa syukur dan penghargaan bagi para pejuang dan leluhur bangsa kita.

Comments

Komentar