Menikmati alam atau sekedar berwisata merupakan suatu kebutuhan bagi setiap orang. Bagaimana caranya atau dimana tempatnya tergantung setiap orang membutuhkannya untuk berwisata. Kali ini saya bersama kawan kecil dan beberapa teman yang baru saja kenal pada saat itu, melakukan pendakian ke Gunung Semeru yang berada di dua kabupaten yaitu Kabupaten Malang Dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Gunung yang konon merupakan tempat bersemayamnya para dewa menjadi perjalanan wisata yang tak terlupakan.

Mendaki gunung semeru dibutuhkan persiapan fisik yang baik buddies…, disarankan bagi pemula seperti saya harus minimal jogging satu minggu sebelum pendakian. Sebab fisik yang prima sangatlah membantu pendakian dan otot tidak kaget saat melakukan perjalanan berjam-jam, selain fisik yang prima diperlukan perbekalan yang cukup. Perbekalan harus cukup dan tidak berlebih sebab bisa menambahakan beban, selain itu juga peralatan naik gunung tentunya jangan sampai terlewat dan perlengkapan tambahan seperti jaket tebal berlebih kalo bisa yang windbreaker, lalu untuk pemula diusahakan membawa trekking pole karena medan yang akan dilalui berpasir dan membantu pada saat jalan menanjak.

Ok buddies, apabila perlengkapan dan persiapan dikira cukup maka kita lanjut keperjalanan. Rencana perjalanan menghabiskan waktu sekitar 4 hari 3 malam. Pada hari pertama saya dan kawan-kawan melakukan perjalanan dari Stasiun Senen, Jakarta menggunakan kereta Majapahit dan dijadwalkan berangkat pukul 18.30 Wib. Lama perjalanan diperkirakan sekitar 18 Jam, tiba di Stasiun Malang Baru kereta terlambat dari jadwal, yang semula dijadwalkan kedatangan pukul 10.00 Wib kereta baru sampai pukul 12.30 Wib.

Sampai di Stasiun Malang kami tidak langsung melanjutkan ke Pasar Tumpang menggunakan angkutan umum, memerlukan 1 jam perjalanan untuk sampai ditempat berkumpul para pendaki itu. ditumpang kita sempat beristirahat makan dan melakukan packing ulang untuk mempersiapkan logistik untuk mendaki.

Setelah melakukan pendaftaran asuransi simaksi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan beristirahat selesai, saatnya kita menuju desa Ranu Pane menggunakan mobil Jeep 4×4 wheel, sebab hanya mobil berspesifikasi itulah yang bisa menaklukan perjalanan yang menanjak.

Sekitar pukul 14.00 Wib rombongan mulai meninggalkan pasar Tumpang dan memerlukan 2 jam perjalan menuju desa Ranu Pani. Selama perjalanan kami disugukan berbagai pekebunan apel dan tanaman-tanaman lainya, tidak luput juga dari penglihatan kami Gunung Bromo yang berada disebelah kiri dalam perjalanan. Tiba di desa Ranu Pane pukul 16.00 Wib. Loket hampir tutup akan tetapi kami diperbolehkan dan menjadi rombongan terakhir yang bisa masuk tanam nasional tersebut.

Setelah mengecek ulang perlengkapan, kami diberikan briefing oleh tim dari Balai Besar Bromo Tengger Semeru untuk mengetahui prosedur apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada saat mendaki. Perlu diketahui pendakian ke puncak Semeru hanya boleh samapai shelter terakhir di Kalimati. Karena saat ini, status gunung tertinggi di Pulau Jawa itu masih waspada atau level II. Selain itu, biasanya pada musim kemarau, cuaca di atas gunung sangat ekstrim bisa mencapai 6 derajat pada malam hari.

Setelah briefing selama satu jam, rombongan kami memutuskan untuk melakukan pendakian pada malam hari. Setelah beristirahat dan solat maghrib, pukul 18.30 Wib kami bersiap melakukan pendakian menuju camping ground di Ranu Kumbolo. Untuk para pendaki pemula disarankan untuk tidak melakukan pendakian dimalam hari tanpa didampingi pemandu, sebab pendakian dimalam hari sangatlah berat, selain jalurnya yang jelas pada siang hari, menjadi tidak jelas pada malam hari karena minimnya penerangan. Lalu kadar oksigen yang berebut dengan pohon membuat oksigen sangat tipis, serta membuat cepat lelah.

Setelah melewati jalan aspal dan pekebunan penduduk, barulah kita masuk kejalan setapak dari sinilah pendakian sesungguhnya dimulai. Estimasi pendakian kurang lebih sekitar 4-5 jam dengan melalui sekitar 4 pos, dan rencananya kita akan mendaki sampai Ranu Kumbolo diketinggian 2200 mdpl, ketinggian dimana bisa membuat tubuh menggigil broo.
Untuk menuju pos 1, jalur yang kita lalui tidak cukup sulit, masih jalan setapak yang landai dan belum banyak tanjakan. Hutan Semeru merupakan hutan tropis dan masih banyak pepohonan yang rapat, sangat terasa nyaman sekali berjalan disini. Setelah melakukan 2 jam perjalanan barulah kami sampai di pos satu, saya dan kawan-kawan memustuskan untuk beristirahat dan membuat minuman untuk menghangatkan badan, karena cuaca sudah mulai dingin dan rasa lelah sudah mendera kami.

Setelah cukup beristirahat, kami mulai melanjutkan perjalanan dari pos 1 menuju pos 2 yang kurang lebih 15 menit untuk sampai di pos 2 jalurnya pun belum banyak tanjakan, masih jalur tanah yang nyaman untuk dilewati. Untuk mencapai pos 3 pemandangan masih sama kita melewati pohon lagi dan juga terdapat longsoran dan jurang, bedanya kita sempat melewati bukit batu yang bernama Watu Rejeng, memerlukan ekstra ke waspadaan untuk melakukan trecking dimalam hari.

Hari mulai makin larut sekitar pukul 24.00 tibalah di pos 3, perjalanan tidak sesuai jadwal, dikarenankan rombongan kami sempat tersesat dan banyak yang sudah merasa lelah. Dari pos 3 tinggal satu pos lagi untuk sampai Ranu Kumbolo, jalur yang dilalui mulai cukup berat, kita harus melewati beberapa tanjakan dengan sudut kemiringan lebih dari 45 derajat. Setelah berjalan hampir 1 jam, camping ground di Ranu Kumbolo tampak terlihat dari kejauhan, dan kami pun sampai di pos 4. Dari pos 4 jalan sudah mulai landai, dan memerlukan 45 menit untuk sampai di Ranu Kumbolo.

Ranu Kumbolo Dari Pos 4

Rakum
View Ranu Kumbolo dari Tanjakan Cinta

Pukul 02.00 tibalah di “surganya” gunung Semeru dengan ketinggian 2400 mdpl. Tempat ini sangat indah terlihat pancaran cahaya dari tenda para pendaki, cuaca sangatlah dingin kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan melanjutkan perjalanan pada siang hari. Ranu Kumbolo sering disebut juga kampung para pendaki, Didanau Ranu Kumbolo ini airnya bisa digunakan untuk minum, dilarang keras untuk mandi atau mencuci peralatan mendaki didanau ini, agar air dari danau tersebut tidak tercemar dengan bahan kimia.

Kabut pagi di Ranu Kumbolo perlahan menghilang dan digantikan dengan cahya matahari yang perlahan muncul dari balik bukit. Setelah menikmati keindahan danau ini, kami makan dan bersiap melanjutkan perjalanan menuju Kalimati. Pukul 12.00 track dilanjutkan dengan menghadapi tanjakan yang terkenal banget, namanya Tanjakan cinta. Konon katanya apabila melalui tanjakan ini dengan memikirkan seseorang tanpa menoleh kebelakang maka dia akan mendapatkan cintanya, dan rekan-rekan kami pun melakukannya karena mereka kebanyakan jomblo. Setelah sampai di ujung tanjakan cinta baru diketahui kenapa dinamakan tanjakan cinta, karena butuh perjuangan untuk sampai diatas, sama halnya untuk mendapatkan cinta.

Ranu Kumbolo, View Dari Tanjakan Cinta

Samapi diujung tanjakan, kita disuguhi dengan pemandangan padang sabana yang bernama Oro-oro Ombo. Dipadang sabana tersebut tumbuhlah Bunga Verbena Brasiliensis Vell berwarna ungu, mirip warna bunga Lavender. Selepas Oro-oro Ombo kami melanjutkan perjalanan menuju Cemro Kandang, jalur yang dilalui berupa tanjakan yang cukup panjang dan dikelilingi pohon-pohon cemara.

Dijalur pendakian Mahameru dari Ranu Kumbolo menuju Kalimati memakan waktu sekita 5 jam perjalanan. Sampai di Kalimati pukul 17.00 Wib, disinilah shelter terakhir menuju puncak Mahameru. Tidak terasa hari sudah gelap kami mebuka tenda untuk melakukan summit ke puncak Mahameru pada malam hari. Di Kalimati terdapat sumber air yang diberi nama Sumber Mani. Butuh waktu 30 menit untuk sampai mengambil air di Sumber Mani.

Waktu menunjukan pukul 23.00 Wib, persiapan untuk summit kami lakukan, cuaca dingin sangat terasa menusuk sampai kebadan, cuaca disini tidak boleh di anggap remeh karena bisa menyebabkan hypotermiav yang banyak menyebabkan pendaki mennggal dunia. Dari Kalimati kita memerlukan waktu 1,5 jam untuk sampai di Arcopodo. Dapat juga kita
berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900 mdpl. Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir.

Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam (santai), melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Kalimati jangan lupa untuk membawa perbekalan yang cukup, sebab rasa lapar dan haus pasti menyerang kita. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 00.00 dari Arcopodo. Di puncak Gunung Mahameru pendaki bisa melihat kawah Jonggring Saloko dimana setiap 10-15 menit sekali menyemburkan batuan vulkanis, Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajat Celcius.

“The best view comes after the hardest climb,” pepatah tersebut sangatlah tepat dijalur pendakian Mahameru, sebab dipuncak tertinggi pulau Jawa tersebut kita berada di ketinggian 3676 mdpl. Dimana kita berada lebih tinggi dari awan, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata hanya rasa bersyukur bisa menikmati keindahan alam sang Maha Esa. Pesona Indonesia sangat menakjubkan dan kita wajib menjaganya dengan tidak melakukan perusakan (vandalisme) serta membawa kembali sampah bekas pendakian. Terkadang berat melakukan perjalanan yang tak terlihat ujungnya. Tapi harapan yang menentukan dimana kita akan melangkah hingga puncak.

Comments

Komentar