INDONESIAMAGZ.com – Ketika gempa besar yang memicu tsunami terjadi di dekat pesisir pantai, warga hanya punya waktu 10 hingga 30 menit untuk menyelamatkan diri, kata Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Inilah yang dikenal dengan istilah waktu emas (golden time). Keputusan dan tindakan apa yang diambil dalam rentang waktu yang sempit inilah yang akan menentukan hidup dan mati.

Oleh karena itu, pengetahuan tentang evakuasi dini dan siaga bencana idealnya harus dimiliki setiap orang. Berikut, kami merangkum sejumlah hal yang harus idPeople ketahui untuk merespon cepat potensi tsunami di wilayah pesisir.

1. Seberapa rawan daerah pesisir kita?

Tingginya aktivitas kegempaan terjadi karena wilayah nusantara yang merupakan pertemuan tiga lempeng tektonik.

Hampir semua daerah pesisir tergolong rawan, termasuk wilayah yang langsung berbatasan dengan Samudera Hindia, pantai Kalimantan sebelah barat, seluruh pantai Sulawesi, Maluku, Papua, dan pulau-pulau kecil di antaranya.

Data BMKG dari 1991 hingga 2010 menunjukan sedikitnya ada 10 bencana tsunami di Indonesia, sembilan di antaranya menimbulkan banyak korban jiwa, termasuk tsunami Flores 1992 dengan lebih dari 2.000 korban jiwa, tsunami Aceh yang menelan lebih dari 200.000 korban, dan gempa Mentawai 2010.

Belajar dari tsunami Aceh, sistem peringatan dini BMKG terus diperbaiki dan sudah mampu menyampaikan peringatan lebih cepat kepada warga.

“Sebelum tsunami Aceh pada 2004, data baru bisa kita dapat 30 menit setelah kejadian, tetapi sekarang lima menit sudah bisa,” kata seismolog BMKG, Jaya Murjaya.

Namun, BMKG mengatakan warga tidak boleh hanya mengandalkan peringatan dini dan pemerintah daerah untuk melakukan evakuasi ketika tsunami datang.

2. Bagaimana melakukan evakuasi mandiri ?

Memanfaatkan waktu emas atau golden time adalah yang terpenting ketika Anda tinggal di wilayah pesisir.

“Wilayah kita golden time-nya 10 sampai 30 menit, sangat sempit sehingga warga tidak bisa diselamatkan dengan teknologi canggih manapun,” kata Kepala Bidang Informasi Dini Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wandono.

“Walau kita memberi informasi setelah lima menit, kita tetap tidak bisa selamatkan warga yang belum terdidik evakuasi mandiri.”

Seperti namanya, evakuasi mandiri adalah evakuasi yang dilakukan tanpa menunggu arahan dari petugas terkait. “Gempa itu sendiri adalah early warning. Ketika gempa dirasakan kuat dan lama, Anda harus curiga dan segera lari ke arah tegal lurus dengan pantai,” lanjutnya.

Pelatihan evakuasi mandiri, termasuk penyediaan jalur dan tempat evakuasi, harus diberikan kepada warga oleh pemerintah daerah di daerah rawan, tambah Wandono.

Untuk Anda, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui situsnya merinci apa saja yang harus dilakukan untuk respon potensi tsunami, termasuk:

  1. Mencari informasi apakah ada potensi tsunami.
  2. Cepat bergerak ke arah daratan yang lebih tinggi dan tinggal di sana sementara waktu.
  3. Jauhi pantai. Jangan pernah menuju ke pantai untuk melihat datangnya tsunami. Apabila Anda dapat melihat gelombang, Anda berada terlalu dekat. Segera menjauh.
  4. Waspada- apabila terjadi air surut, jauhi pinggir pantai.

3. Pahami status peringatan dini

Lima menit setelah gempa, BMKG biasanya akan mengeluarkan peringatan dini di beberapa wilayah jika ada potensi tsunami. Peringatan diberikan dalam tiga kategori berbeda. Apa artinya dan bagaimana kita harus bereaksi terhadapnya?

Berikut penjelasannnya:

AWAS: Tinggi tsunami diperkirakan bisa mencapai lebih dari tiga meter. Warga diminta segera melakukan evakuasi menyeluruh ke arah tegak lurus dari pinggir pantai. Pemerintah daerah harus menyediakan informasi jelas tentang jalur dan tempat evakuasi terdekat.

SIAGA: Tinggi tsunami berada dikisaran 0,5 meter hingga tiga meter. Pemerintah daerah diharapkan bisa mengerahkan warga untuk melakukan evakuasi.

WASPADA: Tinggi tsunami kurang dari 0,5 meter. Walau tampak kecil, warga tetap diminta menjauhi pantai dan sungai.

 

Sumber : http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2014/12/141214_explainers_tsunami

Comments

Komentar