INDONESIAMAGZ.com – Ternyata ada mitos dibalik Gerhana Matahari Total yang mesti idPeople ketahui. Raden Tumenggung (KRT) Rinto Isworo sebagai Penghageng Kalih Widya Budaya Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mengatakan, zaman dahulu orang tua selalu bercerita bahwa Gerhana Matahari itu karena dimakan Buto (Raksasa).

“Nenek moyang kita dulu, cerita kalau bulan dimakan buto. Jadi mataharinya gelap,” ujar Rinto kepada kompas.com, Senin (07/03/2016).

Kisah itu berawal dari kehidupan di Kayangan, tempat para dewa tinggal. Saat itu para dewa hendak membagikan air penghidupan yang diberi nama Tirta Amerta. Siapapun yang meminum Tirta Amerta akan hidup selamanya.

“Tirta Amerta itu hanya dibagikan untuk khusus para dewa. Selain dewa tidak boleh,” ujarnya.

Kabar akan adanya pembagian Tirta Amerta itu pun diketahui si Buto (Raksasa). Namun karena khusus dewa, maka si Buto memutuskan untuk menyamar.

“Ya karena hanya para dewa, Buto menyamar menjadi dewa,” ujarnya.

Saat sebelum pembagian dimulai, para dewa diminta untuk antri. Satu-persatu para dewa lantas maju Mereka meminum dengan cara menggunakan daun beringin. Karena Tirta Amerta jumlahnya hanya terbatas, maka para dewa hanya mengambil sedikit dan meminumnya.

“Pokoknya asal rata, sedikit tapi semua dewa dapat minum. Khasiatnya setelah meminum, dewa tidak akan mati,” ujarnya.

Buto yang menyamar akhirnya mendapat giliran maju. Namun, saat sampai di depan dan air Tirta Amerta baru sampai di mulut tiba-tiba ada anak panah melayang dan memutuskan leher si Buto. Ternyata itu anak panah milik Bethoro Suryo yang mengetahui jika Buto menyamar sebagai dewa.

“Dipanah itu lalu tubuh buto jatuh ke Bumi jadi lesung (Tempat menumbuk padi). Tapi kepalanya masih melayang-layang,” ucapnya.

Marah karena ketahuan, si Buto lalu dendam. Kepada Bethoro Suryo, Buto mengancam suatu saat akan menelannya. Tak hanya itu, ia juga mengancam akan memakan bulan di malam hari.

Akhirnya, ketika matahari atau bulan menjadi gelap karena gerhana nenek moyang selalu membunyikan Gejok Lesung (Penumbuk Padi) dan memukul kentongan. Hal itu dilakukan agar si Buto melepaskan matahari atau bulan.

“Zaman dulu, kalau tiba-tiba ada gerhana, langsung bunyikan lesung dan kentongan. Sambil bilang, to buto kui ojo di untal lepeh o (Buto itu jangan dimakan, keluarkan dari mulutmu),” katanya.

Tapi Buto sudah terlanjur menelan matahari dan bulan. Tanpa sadar jika ia tidak memiliki perut. Sehingga meski ditelan matahari maupun bulan tetap keluar lagi.

“Cerita Mitosnya seperti itu, itu dulu jaman belum ada HP dan TV. Kalau sekarang mungkin sudah dilupakan dan jarang diceritakan,” tutup dia.

 

sumber : kompas.com

Comments

Komentar