INDONESIAMAGZ.com – idPeople, nama Manggarai sudah dikenal oleh warga Jakarta. Terlebih lagi jika memasuki musim hujan, kawasan yang terletak di Jakarta Selatan ini sering disorot oleh berbagai media masa. Namun dibalik itu semua, ada cerita pilu mengenai penamaan Manggarai.

Nama ‘Manggarai’ berkaitan erat dengan nama daerah yang ada di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Menurut buku “Asal-usul Nama Tempat di Jakarta” tulisan Rachmat Ruchiat yang dikutip Selasa (8/12/2015), nama ‘Manggarai’ kemungkinan diberikan oleh kelompok penghuni awal, yaitu orang-orang dari Flores Barat.

Menurut Rachmat, orang-orang Flores pertama kali menempati wilayah Manggarai sekitar tahun 1770. Orang-orang Flores yang bermukim sengaja menamakan kawasan yang mereka tempati di ibukota Jakarta tersebut dengan nama Manggarai. Hal ini bertujuan sebagai pengikat kenangan pada kampung halaman yang mereka tinggalkan.

Sejarawan Jakarta, Alwi Shahab, atau akrab disapa Abah Alwi pernah juga menulis soal daerah Manggarai. Dalam tulisan pernah di muat Republika pada Mei 2004 berjudul ‘Meester Cornelis dan Kapten Yonker’, Abah Alwi mengatakan jika dahulunya, Manggarai adalah tempat konsentrasi para budak dari Nusa Tenggara Timur.

Bursa Budak dan Lahirnya Pasar Rumput

Pada awal abad ke-17, daerah Manggarai pernah menjadi pusat perdagangan budak yang didatangkan dari Manggarai, Flores Barat. Bursa budak di kawasan ini erat hubungannya dengan Menteng Buurt (lingkungan Menteng), yaitu tempat orang Belanda mencari jongos dan bedinde.

Pada masa lampau, memiliki budak adalah salah satu penanda strata sosial dari masyarakat. Semakin banyak budak yang dimiliki semakin penting posisi dan kedudukannya didalam masyarakat. Di Batavia sendiri, fenomena perbudakan juga marak. Umumnya para budak diambil paksa dari berbagai daerah lain di Indonesia yang ditaklukkan oleh VOC.

Fenomena perbudakan yang marak pada masa itu dimanfaatkan para pemilik perkebunan untuk memutar usahanya. Perkebunan – perkebunan yang dikenal sebagai tanah – tanah partikelir itu umumnya luas dan memiliki rumah yang dikenal sebagai “landhuis” tempat dimana para tuan tanah tersebut tinggal

Kemudian ketika perbudakan mulai sepi, pasar di Manggarai masih tetap ramai, yang diperjual-belikan bukanlah budak tetapi pakan ternak yaitu rumput. Sehingga dari aktivitas pasar yang telah berubah tersebut  lahirlah nama Pasar Rumput yang kini banyak dikenal orang.

Kesenian yang Terkait

Bukti bahwa nama Manggarai yang ada di Kotamadya Jakarta Selatan ini berkaitan erat dengan nama daerah yang ada di Nusa Tenggara Timur adalah ditemukannya Tari Lenggo. Sebelum pecah Perang Dunia II, di Manggarai berkembang sebuah tarian yang dikenal dengan nama Lenggo, yaitu tarian yang diiringi orkes berupa tiga buah rebana biang.

Bukti ini kemudian diperkuat dengan keterangan Abdurrahman, mantan Kepala Jawatan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang mengakui bahwa di Bima juga terdapat tarian sejenis, namanya pun sama, yakni tari Lenggo.

Bukti tersebut menunjukkan bahwa tidak mustahil kalau tari Belenggo Betawi merupakan perkembangan dari tari Lenggo Bima, dan memperkuat adanya kaitan yang sangat erat antara nama ‘Manggarai’ di Jakarta Selatan dengan salah satu nama daerah di Nusa Tenggara Timur.

#Dari Berbagai Sumber

Comments

Komentar