INDONESIAMAGZ.com, Agam – idPeople Ada yang tau asal mula ada nya Kelok 44 atau tikungan sebanyak 44 kali di Kabupaten Agam Sumatera Barat?

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Agam, Hadi Suryadi menjelasakan asal muasal adanya kelok 44. Dari tahun 1910 sudah ada kelok 44 ini, hal ini bertujuan sebagai arus transportasi masyarakat dari Agam ke Bukit Tinggi yang jaraknya 73 km.

“Karena dahulu masyarakat jalan kaki ke puncak lawang karena disini ketinggiannya 1230 mdpl, maka dibikinlah berkelok-kelok. keloknya sendiri memiliki 44 tikungan dan semua tikungan, memiliki karakteristik yang patah, sehingga bus besar tidak bisa melintas” tutur Hadi saat dijumpai pada acara Tour de Singkarak 2016 etape empat, Puncak Lawang, Agam, Selasa (9/8).

Hadi juga menambahkan jika terjadi kecelakaan atau masalah dikelok 44 maka lalu lintas sudah pasti tidak bisa bergerak lagi. “Oleh sebab itu pemerintah daerah akan mencari jalur alternatif, kita sedang merancang itu semua,” Katanya.

Kelok 44 memiliki titik pandang yang berbeda-beda. “Di kelok 36 view-nya sangat bagus, disana ada rumah khas Sumatera barat lalu belakangnya Danau Maninjau, tampak bagus sekali dan menjadi titik favorit para fotografer,” katanya.

Selain disuguhkan dengan pemandangan Danau Maninjau dikelok 44 juga bisa ditemui beberapa jenis monyet yang turun mencari makan.

Monyet itu juga menjadi daya tarik sendiri, mereka diberi makan dan dijaga populasinya, agak tidak merusak tanaman masyarakat. Mereka keluar mencari makan disaat pagi dan sore hari, monyet-monyet disini tidak menggangu tidak sama dengan yang di Bali.

Hadi juga memiliki beberapa kendala yang ada di Kelok 44 untuk sejenak menghentikan mobil untuk menikmati pemandangan. “Tidak adanya rest area untuk berhenti melihat monyet-monyet tersebut, itu yang jadi masalah kita saat ini,” Pungkasnya.

Comments

Komentar