INDONESIAMAGZ.com – Bagi idPeople yang ingin menikmati bawah laut indonesia, tetapi belum punya sertifikat menyelam, menyelam bebas atau sering dikenal dengan free dive bisa menjadi cara tersendiri Menikmati bawah laut Indonesia.

Berbeda dengan snorkeling yang hanya berada dipermukaan air, free dive bisa dilakukan hingga kedalaman 20 meter dengan satu tarikan nafas. Bagaimana caranya agar bisa melakukan freediving?
Dalam kegiatan apapun, meriset terlebih dahulu sebelum melakukan adalah hal yang penting. Wisatawan pemula yang ingin mencoba free dive sebaiknya mencari tahu tentang olahraga selam yang tak menggunakan peralatan udara ini.

Kegiatan free diving hanya mengandalkan udara di paru-paru saja. Alat pun hanya masker, snorkel, fin, bagi yang susah tenggelam mungkin bisa menambahkan weightbelt. Jadi inti dari free diving sendiri adalah kekuatan dari paru-paru kita tenang saat berenang.

Sebelum mencoba free dive, pastikan telah menguasai teknik-teknik dan terbiasa tenang saat berenang. Ketenangan saat berenang akan membuat rileks saat mencoba free dive.
Kepanikan hanya akan menyebabkan hal berbahaya. Hal tersebut tak akan terjadi saat rileks di dalam air.

Tak hanya scuba diving, free dive juga memiliki sertifikasi. Sertifikasi tersebut bisa didapatkan di sekolah-sekolah free dive yang ada di Indonesia seperti di Tulamben, Bali.

Saat mengambil sertifikasi, wisatawan akan diajarkan teknik-teknik free dive yang baik dan benar.
Sama seperti dalam scuba diving, free dive juga ditekankan untuk tidak menyelam sendiri. Mintalah ditemani oleh teman penyelam atau juga dikenal dengan istilah dive buddy saat melakukan free dive.

Pastikan dive buddy yang menemani free dive juga memiliki sertifikasi agar bisa mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan. Kaki katak dengan spesifikasi long fins juga membantu untuk pergerakan di dalam air karena bisa mendorong lebih besar dengan sekali mengepakkan kaki.

Seperti kebanyakan olahraga ekstrim, Free Diving memiliki risiko terburuk adalah kematian. Dimulai dari kehilangan kesadaran di bawah air, mengalami kram otot dan serangan suhu ekstrim hingga gangguan predator laut seperti hiu dan ikan pari yang sangat berbahaya.

Biasanya, para pemula melakukan excessive hyperventilation atau diartikan sebagai mengambil nafas secara berlebihan. Ini berbahaya meskipun cara ini bisa meningkatan jumlah oksigen dalam tubuh, perlu diingat bahwa O2 tidak memerintahkan otak untuk mengambil nafas, melainkan CO2. Jadi dengan cadangan oksigen yang banyak di dalam paru-paru bukan jaminan akan mampu bertahan lama di bawah air.

Kemungkinan terburuk saat terlambat mengantisipasi adalah kondisi blackout alias pingsan di kedalaman air. Bisa juga terjadi yang disebut shallow water black out akibat meningkatnya kadar CO2 di dalam tubuh karena telat naik ke permukaan.

Galih pun sempat mengutip ucapan Tania, satu menit pertama di dalam air masih terasa nyaman. Tetapi memasuki menit kedua, tekanan di dalam air semakin berat. Seperti ada seekor gajah duduk di atas dada. Tubuh mulai berat saat digerakkan, pandangan menjadi buram dan suhu air yang dingin seakan menusuk kaki

Comments

Komentar