INDONESIAMAGZ.com – Kekayaan tradisi Banyuwangi tak henti hentinya bermunculan, beragam etnis yang saling membaur bergotong royong melestarikan budaya yang telah diwariskan turun temurun. Menyambut tahun baru islam atau 1 suroo dalam penaggalan Jawa. Berbagai daerah di Banyuwangi menggelar adat tradisi .

Grebek suro salah satunya, ritual adat tradisi tumpeng dalam ukuran besar atau disebut gunungan di gelar di beberapa tempat yaitu desa Pekulo, Kecamatan Srono dan Desa Taman sari Kecamatan tegalsari. Grebek suro di pekulo yang telah di laksankan siang tadi (1/10) di pertigaan tugu rambutan Desa Pekulo. Kegiatan yang dilaksanakan di tiap tahunnya ini berlangsung sangat meriah dari tahun ketahun. Di tahun 2016 ini Panitia setempat mengeluarkan dua tumpeng atau gunungan yang salah satunya tumpeng palawija atau sayur sayuran.

Persiapan telah Nampak sejak pagi hari, seluruh jalan di lokasi acara di hiasi dengan rumbai rumbai yang terbuat dari daun kelapa yan dilengkungkan di sepanjang jalan. Di sisi lain beberapa panitia mempersiapkan gunungan, untuk tiap gunungan ini mencapai 4 kuintal beratnya. Tahun ini panita menggelar grebek sewu tidak seperti biasanya yang hanya gunungan untuk diarak. 1500 ancak mengiringi arak arakan gunungan mengelilingi desa Pekulo. Rute yang diambil di mulai dari pertigaan Desa Pekulo menuju Lapangaan Sepak bola Pekulo dan kembali lagi dengan mengambil rute keliling kampung dan kembali ke pertigaan tugu Rambutan. Selesai arak arakan, tumpeng dan 1500 ancak di doakan bersama dan menikmati bersama tumpeng di sepanjang jalan pertigaan Tugu Rambutan.

Di tempat lain tepatnya di desa Tamansari tegalsari,Kecamatan Tegalsari. Grebek sewu juga digelar keesokan harinya (2/10) yang dimulai pukul 12.00. Adat Tradisi yang baru baru ini di gelar atas dasar inisiatif pemuda Desa Tamansari untuk melestarikan budaya leluhur yang mulai ditinggalkan. Grebek Sewu ini juga untuk memperingat tahun baru islam atau tanggal 1 Assura dalam penanggalan islam.

Alas Malang di tanggal yang sama 2 oktober menggelar Ritual ada Kebo – Keboan yang telah di gelar secara turun tumurun. Ritual adat sebagai penolak balak atau bersih desa ini masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Berbagai persiapan telah terlihat sejak pagi tadi ornament khas sudah tampak terlihat. Seluruh sudut jalan , pertigaan maupun perempatan mulai di hias dengan gapura yang dihiasi dengan buah – buahan seperti maupun pala pendem ( buah yang berasal dari tanah ) seperti ketela, singkong dan sebagainya. Dipusat acara tenda undangan di hiasi dengan omprok ( penutup kepala penari Gandrung ).

Ritual adat yang akan di gelar sejak pukuanl 10.00 , selalu meriah di tiap tahun. Seluruh warga dari segala penjuru Banyuwangi maupun luar Banyuwangi akan memadati gelaran adat tradisi Kebo – Keboan. Puncak acara ketika Dewi Padi (Dewi Sri) muncul dengan Kebo – Keboan ( orang yang berdandan serba hitam di sekujur tubuhnya dengan ornament tanduk layaknya seekor kerbau). Seluruh warga akan berbondong bondong ke sawah yang telah dipersiapkan, beserta kerbau yang membawa bibit padi yang telah di doakan oleh sesepuh setempat. Setelah di doakan dan di arak keliling oleh kampung, bibit tersebut di bawa oleh kebo- keboan yang nantinya warga akan berebut bibit padi.. Seluruh warga akan rela berjibaku demi bibit padi yang dipercaya akan mendapat berkah dan panen melimpah jika warga mendapatkan bibit tersebut.

Di Lampon dan Pancer yang mayoritas warganya bermata pencaharian sebagai nelayan, akan menggelar ritual adat Petik Laut. Ritual adat ini akan diikuti oleh seluruh nelayan dengan melarung sesaji yang di kumpulkan dalam perahu kecil. Hal ini dilakukan selain untuk memperingati 1 suro juga sebagai bentuk rasa syukur atas hasil tangkapan yang selalu melimpah. Ritual Petik laut Pancer akan digelar sejak pagi hari yang dilanjutkan larung sesaji ke tengah laut.

Tradisi Suro Pesucian, Tradisi yang digelar di Desa Gombengsari Kecamatan Kalipuro ini juga sebagai bentuk untuk memperingati 1 suro (penanggalan Jawa). Tradisi turun temurun ini selalu digelar di tiap tahunnya. Tradisi tahun ini digelar selama dua hari yang dimulai tanggal 1 – 2 oktober 2016. Sejak pagi tadi sudah di gelar berbagai event seperti lomba hadrah, lomba lukis, arak arakan , dan ider bumi. Mala mini mulai digelar tauziah yang dilanjutkan pagelaran wayang kulit nanti malam 21.00 WIB di puncak acara malam nanti akan di gelar suro pesucian. Suro pesucian yaitu ritual mandi di salah satu sumber mata air yang berada di Desa Gombengsari. Di keesokan harinya akan di adakan meras jaranan,pertunjukan Kuntulan dan Gandrung. Seperti apasaja gelaran adat tradisi di Banyuwangi, yuk datang ke Banyuwangi

Comments

Komentar