INDONESIAMAGZ – Tari tradisional nusantara yang lahir dan berkembang dalam kultur dan tradisi di daerah Gowa, Takalar, Jeneponto, dan Bulukumba, ini memiliki sejarah yang unik. Sebagai seni yang berdimensi ritual, Tari Pakarena terus hidup dan menghidupi ruang batin masyarakat Gowa dan sekitarnya.
Tari Pakarena merupakan salah satu dari lima tari klasik Sulawesi Selatan yang paling terkenal. Konon, gerakan Tari Pakarena tercipta dari gerakan-gerakan puteri khayangan yang turun ke bumi. Penduduk asli Gowa percaya dahulu ada sekelompok puteri khayangan yang turun ke bumi dengan misi mengajarkan perempuan bumi pelajaran kewanitaan, seperti berhias dan menenun.
Cerita lain mengenai keberadaan Tarian Pakarena ini adalah berawal dari kisah perpisahan penghuni boting langi (negeri kahyangan) dengan penghuni lino (bumi) zaman dulu. Sebelum detik-detik perpisahan, boting langi mengajarkan penghuni lino mengenai tata cara hidup, bercocok tanam, beternak hingga cara berburu lewat gerakan-gerakan tangan, badan dan kaki.
Gerakan dari tarian ini sangat artistik dan sarat makna, memiliki estetika gerakan indah yang tersirat dalam setiap gerak tangan dan kaki si penari. Oleh sebab itu, penari Pakarena haruslah wanita, karena tarian ini pada dasarnya mencerminkan karakter wanita Gowa yang lembut, sopan, setia, dan patuh. Tari Pakarena dipentaskan oleh perempuan yang terdiri dari dua baris, tiap baris terdiri dari tiga sampai lima orang.
Dalam pementasannya, tarian ini selalu diiringi dua buah gendang, kannong-kannong, gong, kancing dan sepasang puik-puik (suling) yang dimainkan pemain musik pria yang biasanya berjumlah tujuh orang. Tari Pakarena diiringi musik dinamis dan menghentak yang bersumber dari suara gendang atau gentang atau genrang. Meski diiringi oleh musik dengan ritme yang menghentak dan bersemangat, gerakan Tari Pakarena tetap gemulai dan luwes.
Foto : Indonesiakaya.com